Story4 min read

Jadi Software Engineer: 2018 vs Sekarang di Era Agentic AI

Sejak mulai jadi software engineer di 2018, cara kerja saya berubah total: kini semua kode yang saya push 100% AI generated.

#ai#agentic-ai#software-engineer#career
Indra KusumaIndra KusumaFullstack Engineer · Jakarta

Tahun 2018 saya ikut Tokopedia Devcamp dan mulai magang sebagai Software Engineer, lalu lanjut jadi Software Engineer Mobile Web. Sekarang, delapan tahun kemudian, di artikel ini saya coba bandingkan: apa saja yang berubah dari jadi software engineer di 2018 dibanding sekarang di era Agentic AI, dan apa yang ternyata tetap sama.

Dulu: Googling, Stack Overflow, dan Dokumentasi

Waktu 2018, kalau ketemu error, ritualnya hampir selalu sama: copy pesan error-nya, paste ke Google, buka tab Stack Overflow satu per satu, lalu coba solusi yang paling banyak di-upvote. Kalau belum ketemu juga, baru buka dokumentasi resmi atau tanya senior di meja sebelah.

Nulis kode juga benar-benar dari nol. Bikin komponen baru, bikin unit test, bikin boilerplate, semuanya diketik manual. Satu fitur kecil bisa makan waktu seharian, dan sebagian besar waktu itu habis di hal-hal yang sebenarnya repetitif.

Tapi justru dari situ saya belajar banyak. Karena harus baca kode orang lain dan dokumentasi sampai paham, pelan-pelan fundamental saya terbentuk.

Sekarang: Kerja Bareng AI Agent

Sekarang alurnya jauh berbeda. Di era Agentic AI, AI bukan cuma menjawab pertanyaan, tapi bisa menjalankan tugas dari awal sampai selesai: membaca kode, mengubahnya, menjalankan test, sampai memperbaiki hasilnya sendiri. Jadi kalau ada error, ya tinggal minta AI untuk debugging, minta AI untuk menjelaskan penyebabnya, minta AI kasih beberapa opsi solusi, lalu minta AI untuk menulis solusinya.

Di ByteDance, di Invitato, dan di blog ini, semuanya sudah full dikerjakan bareng AI. Dan hasilnya cepat banget:

  • ByteDance, sejak akhir tahun 2025 saya sudah nggak nulis kode manual lagi di kantor. Bahkan waktu harus mengerjakan project berbasis Lynx, yang belum pernah saya pakai dan sama sekali belum saya pahami, dalam 1 bulan saya tetap bisa deliver satu page dengan full flow, lengkap dengan test dan sebagainya.
  • Blog ini cukup 1 hari untuk full migrasi dari Hexo ke Next.js, sekalian dengan desain baru!
  • Invitato, baru-baru ini saya ubah backend yang tadinya multi endpoint di Google Sheet menjadi single endpoint, lalu di-deploy sebagai backend app baru. Itu juga cuma butuh 2 hari!

Peran saya bergeser. Dulu saya lebih banyak jadi "tukang ketik kode", sekarang lebih mirip "arsitek dan mandor": menjelaskan apa yang mau dibangun, mengecek hasilnya, dan memutuskan mana yang layak di-deploy.

Yang Berubah

  • Kecepatan. Hal yang dulu butuh berminggu-minggu sekarang bisa selesai dalam hitungan hari.
  • Cara belajar. Ini jadi challenge terbesar. Karena AI sudah bisa mengerjakan hampir semuanya, godaan untuk nggak belajar jadi besar banget. Mau nggak mau, sekarang kita harus jauh lebih memaksa diri untuk "mau" belajar dulu.
  • Skill yang paling dicari. Menurut saya, sekarang jadi sangat penting untuk engineer yang paham domain knowledge suatu produk dari A sampai Z. Karena kita sudah bukan tukang ketik lagi, sekarang kita harus naik level jadi arsitek. Arsitek yang baik bukan cuma memilih solusi yang benar secara teknis, tapi juga yang masuk akal dari segi biaya.
  • Ukuran tim. Tim sekarang bisa lebih kecil dan bergerak jauh lebih cepat.

Yang Tetap Sama

Di artikel Diterima Sebagai Software Engineer Tokopedia tahun 2019, saya pernah nulis: jangan lupakan fundamental. Ternyata di era Agentic AI, nasihat itu justru makin penting.

AI bisa nulis kode dengan cepat, tapi AI juga bisa salah dengan sangat meyakinkan. Kalau kita nggak paham dasarnya, seperti cara kerja browser, struktur data, performance, dan security, kita nggak akan sadar kalau hasilnya keliru. Fundamental sekarang bukan lagi soal bisa nulis semuanya sendiri, tapi soal bisa menilai apakah yang ditulis itu benar.

Komunikasi juga tetap penting. Dulu komunikasi dengan tim dan user, sekarang ditambah komunikasi dengan AI. Prompt yang jelas itu pada dasarnya sama dengan menulis requirement yang jelas.

Tips Buat yang Baru Mulai

  • Pakai AI, biasakan. Tapi paksa dirimu untuk memahami apa yang di-generate.
  • Belajar workflow-nya. Misalnya kasih goal yang jelas, seperti "improve performance LCP halaman homepage jadi 1 detik". Setelah goal tercapai, lakukan code review untuk memastikan nggak ada flow yang rusak.
  • Poles cara kamu kasih instruksi ke AI. Supaya hasilnya sama seperti apa yang kamu mau.
  • Tetap belajar fundamental. Pahami bagaimana suatu sistem bekerja dan bagaimana alur datanya berjalan. Dengan begitu, ketika ada issue atau kamu mau improve sesuatu, kamu bisa pin point bagian mana yang harus diubah dengan tepat, dan bisa memberi instruksi yang spesifik ke AI, bukan cuma "tolong perbaiki".
  • Pelajari produknya, bukan cuma kodenya. Pahami domain knowledge dari produk yang kamu kerjakan, karena itu yang bikin kamu bisa jadi arsitek.

Penutup

Kalau saya yang tahun 2018 lihat cara saya kerja sekarang, mungkin saya nggak bakal percaya. Hal seperti sekarang ini tidak pernah terlintas di imajinasi saya waktu itu, haha. Sekarang tools-nya berubah drastis, tapi intinya tetap sama: memahami masalah, lalu membangun solusi yang benar dari segi arsitektur maupun biaya.

Gimana dengan kamu? Apa yang paling berubah dari cara kamu kerja sejak ada AI? Semoga bermanfaat :)

Enjoyed this?